Sabtu, 12 Februari 2011

Mengenal Seni Karawitan

Asal Muasal Gamelan dan Karawitan

Perangkat musik gamelan lengkap yang kita ketahui sekarang pada mulanya hanya diawali dengan satu alat bunyi saja yaitu Gong. Kemudian pada perkembangannya, ada penambahan sejenis gong kecil yang disebut kempul namun jumlahnya masih terbatas lalu seiring dengan kebutuhan musikalitas dari jaman ke jaman yang berkembang, barulah ada penambahan alat-alat lainnya. Seni mengolah bunyi benda atau alat bunyi-bunyian (instrumen) tradisional gamelan disebut Seni Karawitan.

Asal kata Karawitan itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yakni rawit, yang mempunyai arti keharmonisan, elegan dan kehalusan. Namun menurut pendapat yang lain, karawitan berasal dari kata pangrawit yang berarti orang atau subjek yang memiliki perasaan harmonis dan halus. Adapula yang berpendapat bahwa karawitan itu berasal dari kata ngerawit yang dalam bahasa Jawa artinya sangat rumit. Jadi memainkan karawitan itu tidak hanya sekedar menghasilkan bunyi-bunyian tapi memang harus memaknainya secara mendalam melalui gendhing (lagu-lagu) yang dibawakan dalam seni karawitan karena gendhing-gendhing tersebut berpengaruh pada sikap kehidupan manusia, misalnya ada nama gendhing yang merujuk pada keselamatan dan permintaan. Semua gendhing yg diciptakan itu juga berkaitan dengan segala kehidupan yang ada di dunia ini.

Secara mudah dipahami, Karawitan adalah bentuk orkestra dari perangkat musik gamelan.

Pembagian Tugas di dalam Seni Karawitan

Di dalam seni karawitan, pembagian dilakukan atas dasar cara pandang yg dikategorikan menjadi instrumen depan (ricikan ngajeng) dan instrumen belakang (ricikan wingking). Instrumen depan tidak berarti hanya berada pada posisi depan saja, namun memiliki keunggulan-keunggulan intelektual, karisma, kerumitan dan kemampuan sehingga biasanya instrumen yang terletak di depan itu dimainkan oleh mereka yang tingkat kemampuan dan kompetensinya tinggi, menguasai kerumitan garap (penguasaan alat) sehingga mereka berhak dan layak memainkan instrumen-instrumen di depan. Instrumen depan itu diantaranya gender, rebab, gambang dan bonang. Sedangkan instrumen belakang dalam pengertian kemampuan masih sedehana dan belum bisa menyamai kerumitan permainan instrumen depan.

Walaupun demikian, pemain yang mendapatkan peran berada pada posisi instrument belakang tidak berarti ia kurang pandai karena di dalam seni karawitan, semua pemain harus mampu memainkan alat gamelan yang berada di depan maupun belakang. Perbedaan kemampuan terletak pada tabuhannya, pemain pemula biasanya masih menggunakan tabuh satu sedangkan pemain yang sudah mahir sudah bisa memainkan alat dengan tabuh dua.

Jika anggota pemain seni karawitan terdiri dari anggota masyarakat yang memiliki strata sosial berbeda, bukan berarti yang berhak memainkan instrumen depan adalah mereka yang memiliki strata sosial lebih tinggi karena semua ditentukan berdasarkan kemahiran memainkan alat musik gamelan itu. Siapapun yang berada pada posisi instrumen depan harus dipatuhi oleh instrumen belakang.

Karawitan dan Konsep Kebersamaan

Dalam seni karawitan tercipta kondisi kegotongroyongan, saling menunggu, saling menghargai antara instrumen satu dengan yang lainnya. Seperti contohnya, jika Gong yang dipukul agak terlambat dari ketukannya, maka pemain yang memegang instrumen lainnya akan tetap menunggu sehingga pengrawit yang bertanggung jawab atas instrumen Gong memiliki tanggung jawab yang besar untuk tidak melakukan kesalahan supaya tidak membuat pengrawit yang lain menunggu.

Manajemen kebersamaan dalam seni karawitan itu terjadi secara otomatis karena adanya pembagian peran sesuai dengan instrument depan dan belakang seperti yang dijelaskan diatas. Garap satu dengan yang lain dilakukan pula harus secara bersamaan, tidak bisa mandiri atau berdiri sendiri kecuali ketika memang disengajakan adanya ilutrasi tunggal seperti menyuling tetapi konsep musikalitasnya tetap harus bersama-sama supaya dapat menghasilkan suara ‘stereo’ yang indah antara instrumen satu dengan lainnya.

Di dalam seni karawitan itu juga ada pembagian-pembagian wilayah kerja yakni dari yang memimpin lagu, yg memimpin irama ada, kemudian ada yang menjadi pelaksana irama, semuanya secara otomatis bekerja dengan kerjasama yang baik. Karakteristik para pengrawit itu sendiri biasanya agak berbeda dengan karakteristik pemain teater atau penari karena bagi pengrawit yg sudah menep (memiliki pengendapan rasa), mereka biasanya tidak bisa hidup sendiri (tidak bersikap individual).


Karawitan dan Latihan Kepemimpinan

Pemimpin bunyi di dalam seni karawitan dipegang oleh seorang pengendang. Sebagai seorang pemimpin bunyi, ia harus menyadari perannya sebagai pemimpin yaitu memahami pemegang bunyi yang lain, tidak diktator dalam artian tidak bisa seenaknya membuat tempo cepat atau lambat sesuai kehendaknya seperti posisi konduktor dalam orkestra. Demikian pula untuk pemangku lagu atau pendukung irama seperti saron, demung dan instrument-instrumen lain yang sifatnya mendukung maksud dari pimpinan bunyi itu juga harus bisa menyesuaikan dengan instruksi dari yang disampaikan oleh pengendang dan tidak bisa seenaknya berdiri sendiri. Dengan demikian seni karawitan dapat melatih seorang untuk tidak sombong, melatih kesabaran, dan menumbuhkan sikap kearifan bahwa setiap peran sekecil apapun dalam karawitan membutuhkan kerjasama tiap-tiap pengrawit untuk mengimplementasikan perannya dengan baik supaya suara yang dihasilkan dapat berbunyi dengan rapih. Uniknya dalam seni karawitan, tidak ada konduktornya yang memimpin sehingga keharmonisan dilandaskan pada kesadaran tiap pemain akan peran masing-masing sehingga tiap pengrawit melatih memimpin diri sendiri, memimpin orang lain (pengendang) dan dipimpin (pendukung irama).

sumber: http://www.terrajawa.net/kepribadian_detail.php?artikel_id=46