Sabtu, 12 Februari 2011

Kesenian Jaran Kepang


Kesenian jaran kepang yang kini sudah menjadi bagian kegiatan berkesenian masyarakat Jawa Timur, dulu kesenian ini dilakukan tidak sebatas bentuk pengisi acara hiburan semata, tetapi jaran kepang memiliki tujuan sebagai acara ritual penolak bala.

‘Bala’ diartikan sebagai hal yang negative, bisa diartikan sebagai penyakit, atau sesuatu yang ditimbulkan karena pengaruh-pengaruh yang berasal dari mahluk halus.

Jaran kepang biasanya sebagai kelengkapan pengiring “Reog” bersama tokoh lain seperti ‘macan putih’ dan ‘jatilan’. Namun dalam perkembangannya. Jaran kepang saat ini membentuk kelompok seni tersendiri.

Seperti ‘Jaranan’ dan ‘Kuda Lumping’ Di beberapa daerah kesenian jaran kepang digunakan sebagai pengiring sesaji dalam tradisi upacara seperti ‘metri bumi’ atau penghormatan pada leluhur cikal bakal berdirinya suatu wilayah atau ‘bedah krawang‘.

Jaran kepang biasanya juga ada yang menyebutnya dengan sebutan kuda lumping. Arti jaran kepang kira-kira demikian. Jaran artinya kuda.

Dan kepang artinya ikatan bagian belakang, biasanya mengenai rambut. Jadi makna jaran kepang adalah kuda yang rambutnya diikat di belakang. Ikatan rambut kuda sebenarnya adalah juntaian rambut yang ada di punggung leher kuda.

Dalam simbol yang ada pada perangkat alat yang dijadikan sebagai sosok kuda (terbuat dari anyaman bambu). Rambut tersebut terjalin atau terikat atau terkepang pada bagian punggung leher kuda dari atas hingga dekat pelana. Seperti gaya rambut ‘punk rock’.

Atau jambul pada perisai kepala pasukan romawi. Semakin lebat dan panjang. Akan semakin nampak sangar dan keren. Rambut biasanya terbuat dari ijuk kelapa. Berwarna hitam kasar namun lentur. Bila menggunakan bulu kuda asli akan lebih memberi nilai. Seakan ada ‘roh’ nya.

Jaran kepang adalah suatu bentuk tarian penunggang kuda. Namun dalam hal ini kuda yang digunakan bukanlah kuda sesungguhnya.

Sebagai gantinya untuk visualisasi, sosok kuda atau badan kuda terbuat dari bilahan anyaman bambu yang dirangkai sedemikian rupa. Dengan penambahan asesori serta pewarnaan sehingga bentuknya menyerupai kuda.

Bagian yang tidak boleh diabaikan adalah persiapan sebelum pagelaran diadakan. Penyelenggara terlebih dahulu berkomunikasi dengan kepala kelompok paguyuban jaran kepang.

Mengenai apa saja yang harus dipenuhi Kepala kelompok paguyuban akan mempelajari sejenak situasi penyelenggara. Kemudian memberi persyaratan yang harus dipersiapkan dan disediakan.

Dupa atau kemenyan adalah benda yang selalu tidak pernah ketinggalan. Keharusan memenuhi persayaratan adalah syarat utama untuk menghindari dari hal-hal yang tidak dikehendaki selama penyelenggaraan pagelaran berlangsung.

‘Trans’ atau kesurupan adalah hal yang selalu terjadi selama pagelaran berlangsung. Pemain yang kesurupan tidak satu, dua.

Biasanya nyaris semua pemain mengalami kesurupan. Kesurupan terjadi setelah formasi tarian penunggang kuda yang pada awalnya lembut mengikuti irama musik pengiring.

Kemudian berubah menjadi liar diawali suara lecutan ‘pecut’ atau cemeti yang meledak-ledak di udara. Pemain menari tidak lagi dalam formasi kelompok.

Masing-masing menari dengan liar sekehendak hati. Lantunan tabuhan gending dan lagu memberi suasana magis ditambah lagi tebaran aroma kemenyan yang menyeruak di sekitarnya.

sumber: http://www.liburanseru.com/

0 komentar:

Posting Komentar