Kamis, 01 Desember 2011

Plajan, Desa Gundul Menjelma Jadi Desa Wisata

Kisah Pahlawan Penghijauan yang Menerima Penghargaan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (2), Desa Plajan dijuluki desa hutan, dengan 42 persen atau 455 hektare (ha) dari luas desa 1.044 ha dijadikan hutan rakyat. Dulu lahan desa di pelosok Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, ini kritis dan gundul. Di tangan Marwoto, desa itu menjelma asri dan ramai dikunjungi wisatawan.


MARWOTO, 42, sudah kali kedua ini menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara-Jawa Tengah. Tak dinyana, desa yang dipimpinnya itu keluar sebagai juara satu Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tingkat Nasional 2011. Marwoto menyampaikan, mulanya, ia dan masyarakat hanya ingin desanya jadi hijau dan tak kering lagi. “Tahu-tahu menang, ya, Alhamdulillah,” ujarnya sembari tersenyum. Dulu, lahan desa di lereng Gunung Muria itu gundul dan kritis.

Di musim kemarau sumber mata air mengering, sebaliknya musim hujan banjir. Kerap juga terjadi longsor, penduduk sulit mencari kayu bakar serta makanan ternak. Buntutnya, mereka merambah hutan lindung. Jika dibiarkan, bisa menyebabkan kerusakan yang lebih luas. Satu-satunya jalan, penduduk desa mesti lekas disadarkan dan dibina tentang arti penting hutan bagi kelangsungan hidup. Tahun 2001, pria berkaca mata itu mulai merintis gerakan penghijauan di desa yang dihuni 2.260 kepala keluarga tersebut. Saat program penanaman pohon diutarakan, sebagian menolak dan tak yakin bakal berhasil. “Awalnya susah. Diarahkan menanam jati dan mahoni, katanya lama umurnya. Pohon sengon, mereka tanya nanti siapa yang beli?” ucap bapak tiga anak ini. Penanaman pohon itu hanya dilihat dari sisi ekonomis saja.

“Padalah juga ada sisi ekologi dan kehidupan sosialnya,” lanjutnya. Marwoto tetap beranjak. Secara intensif, ia melakukan sosialisasi penanaman pohon. Dari tahun 2001-2005, penanam terus dilakukan. Dari anggaran belanja desa dan swadaya masyarakat, didatangkan bibit-bibit dari luar kota Jepara, seperti Solo. Dia merancang hutan rakyat swadaya seluas 450 ha atau 42 persen dari luas desa. Berbekal pengetahuan dari latihan yang pernah ia ikuti. Marwoto mengajarkan bagaimana menanam pohon yang benar. Mulai pembuatan lubang dan pemupukan. Waktu berlalu, tanpa disadari, usaha Marwoto dan penduduk mulai terlihat. Desa Plajan berubah menjadi kawasan hijau royo-royo. Bukan hanya itu, pohon yang ditanam masyarakat sudah bisa dipanen untuk dijual. Hebatnya lagi, muncul 46 titik sumber mata air baru untuk air bersih dan pengairan serta kolam ikan.

Marwoto sumringah melihat kesulitan warganya sirna. Pasalnya, kini mereka tak lagi kelimpungan mendapatkan air atau tanaman untuk pakan ternak. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bangga dengan prestasi orang seperti Marwoto. Air itu disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Kegiatan masyarakat bercocok tanam di sawah yang sempat mandek lantaran krisis air, mulai dilanjutkkan. Melihat untung berlipat tersebut, penduduk desa yang berada di ketinggian 400 di atas laut itu, tak segan membibit masal. “Ini adalah kisah inspiratif yang bisa dicontoh oleh orang lain di seluruh negeri ini,” kata Zulkifli Hasan. Dia menuturkan, swadaya masyarakat menjadi sangat luar biasa mulai 2005. Mereka beramai-ramai membibit tanaman sengon, kakao, mahoni, jati, dan aren. “Plajan menjadi hutan desa,” katanya bangga. Dia mengkaim, di Plajan kini sudah tidak ada lagi istilah lahan tidur. Bahkan, mencari lahan baru untuk menanaman pohon sekarang mulai sulit karena sudah penuh ditanami.

http://www.indopos.co.id/index.php/index-catatan-zulkifli-hasan/14969-plajan-desa-gundul-menjelma-jadi-desa-wisata.html

1 komentar:

handoko ganteng mengatakan...

salut untuk plajan..mbah inggi emang sosok yg tiada duanya untuk warga plajan. meskipun q bkn wrg pljn. namun q jg merasa bagian utk hijaunya hutanku.. go green. handoko

Posting Komentar